Beras Pecah Kulit (Embiro)

Informasi Beras

Beras Pecah Kulit

Beras yang memiliki nama latin (oriza sativa) dan termasuk dalam biji-bijian (serealia) selain sebagai makanan pokok merupakan barang komoditi yang sangat berpengaruh terhadap ketahanan pangan nasional. Ketika didapati negara mengalami kekurangan beras untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, maka akan berakibat pada munculnya suatu permasalahan berupa melemahnya kekuatan perekonomian. Menurut suryana tahun 2007 mengatakan bahwa beberapa faktor kekurangan beras akan berakibat pada terancamnya stabilitas ekonomi dan politik sehingga kebijakan ketahanan pangan sering direduksi untuk mencapai ketahanan pangan beras.

Pembahasan mengenai beras tidak akan jauh dari proses penanaman, pengolahan dan penyimpanan serta mutu beras tersebut. Berdasarkan pendapat orang yang ahli di bidanggnya yakni menurut muchtadi tahun 1992 mengatakan tinggi rendahnya kualitas beras tergantung  pada spesies dan varietas serta kondisi lingkungan, waktu pertumbuhan, cara panen, metode pengeringan serta cara penyimpanan. Oleh karena itu baik itu petani atau pihak yang mengelola beras harus terus berupaya untuk membuat beras tersebut tetap baik kualitasnya.

Ketika melakukan pengolahan gabah dengan cara yang benar selanjutnya untuk menjadi beras maka embrio akan tetap aman tanpa kehilangan suatu zat ketika proses tersebut. Melainkan yang akan hilang dalam proses pengolahan tersebut yakni lapisan aleuron, lapisan naleuron sering kali akan terbuang ketika dalam proses pemisahan dengan kulit atau sekam pryakoses tersebut dinamakan pengilingan serta akan menghasilkan biji beras. Hal tersebut karena kulit ari bersifat kedap terhadap oksigen, CO2 dan uap air sehingga dapat melindungi bulir beras dari kerusakany oksidasi edan enzimatis (muchtadi, 1992). Setelah itu beralih keproses selanjutnya yakni penyosohan, ketika dalam  tahap ini haarus ekstra hati-hati karena sangat rawan beras kehilangan kandunagan gizi serta vitamin. Oleh karena itu harus memperhatikan faktor yang membuat hal itu terjadi, menurut haryadi tahun 2006 dikatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kualitas dan hasil penyosongan beras berupa bentuk dan ukuran biji, komposisi serta komponen beras. Kemudian hal tersebut cukup berpengaruh terhadap kadar amolisa pada beras (grosir beras organik), menurut damardjati tahun 1995 mengatakan beras yang mengandung kadar amolisa rendah ketika dimasak akan menghasilkan nasi yang lengket dan tidak mengembang, kadar amolisa tinggi akan menghasilkan nasi yang tidak lengket dan mengembang sedang akan menghasilkan nasi yang pulen.